19 February 2012

Persepsi Konsumen Terhadap Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) Pada Barang Elektronika di Kota Malang

BAB I
PENDAHULUAN

            1.1 Latar Belakang
Sistem pajak pertambahan nilai (PPN) baru diterapkan pada tahun 1985, dan diatur dalam UU No 8 tahun 1985 yang kemudian disempurnakan oleh UU No 11 tahun 1994. Pajak ini dimaksudkan sebagai pengganti pajak penjualan dan pajak penjualan impor. Dibandingkan dengan dua pajak tersebut, PPN memiliki basis yang lebih luas karena tidak hanya meliputi produsen pabrikan, tetapi juga mencakup distributor, agen besar dan penjual eceran. Ketika ketentuan PPN diterapkan pada tahun 1985, maka penerimaan PPN langsung meningkat tajam. Tingginya penerimaan PPN disebabkan oleh dua faktor, yaitu adanya basis pajak yang lebih luas dan tambahan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang tarifnya 10% diatas tarif PPN. Karena PPN ini merupakan pengganti pajak penjualan atau timbul karena adanya barang atau jasa yang ditransaksikan maka PPN termasuk pajak obyektif. Menurut Adriani dalam Brotodihardjo,1982:90, menyatakan bahwa pajak obyektif dimulai denganan obyeknya seperti keadaan, peristiwa, perbuatan dan lain – lain kemudian dicari orang atau subyek yang harus membayar pajaknya. Keadaan subjektif subyek pajak tidak relevan, walaupun dalam kasus – kasus tertentu ikut dipertimbangkan. Selain PPN & PPnBM, yang termasuk pajak ini adalah Pajak Bumi dan Bangunan dan Pajak Kendaraan Bermotor. 
Sesuai dengan legal karakternya sebagai pajak objektif maka PPN tidak membedakan tingkat kemampuan konsumennya. Konsumen yang memiliki kemampuan tinggi dengan konsumen yang memiliki kemampuan rendah diperlakukan sama. Dengan demikian PPN mengandung unsur regresif, yaitu semakin tinggi kemampuan konsumen semakin ringan beban pajak yang dipikul, semakin rendah kemampuan konsumen semakin berat beban pajak yang dipikul. Sebagaiman diketahui UU PPN 1984 menerapkan tarif tunggal, yang justru lebih mempertajam dampak regresif (Sukarji,2005:148). Contoh yang dapat menggambarkan dampak regresifitas adalah sebagai berikut :
Amalia, seorang pegawai honorer di instansi pemerintah dengan penghasilan satu bulan Rp.500.000,-. Sedangkan Titik adalah seorang pengusaha dengan penghasilan bersih perbulan Rp. 2.000.000,- mereka membeli sepeda masing – masing seharga Rp.100.000,-. Untuk itu mereka harus membayar PPN masing – masing sebesar 10 % atau Rp.10.000,-. Walaupun tarifnya sama 10%, namun apabila dihitung beban pajaknya akan berlainan, yaitu :
Amalia : Penghasilan = Rp.   500.000,-
  Konsumsi = Rp.   100.000,-
  PPN 10% = Rp.     10.000,-
    
Titik :  Penghasilan  = Rp.2.000.000,-
  Konsumsi = Rp.   100.000,-
  PPn 10% = Rp.     10.000,-
    

Untuk mengurangi regresifitas ini, konsumen yang mengkonsumsi barang kena pajak yang tergolong mewah dikenakan beban pajak tambahan berupa Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Tentang hal ini, tersirat baik dalam memori penjelasan bagian umum maupun memori penjelasan pasal 5 UU PPN 1984 yang antara lain menegaskan bahwa atas konsumsi barang kena pajak yang tergolong mewah selain dikenakan Pajak Pertambahan Nilai juga dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagai upaya nyata untuk mencapai keseimbangan pembebanan pajak antara konsumen yang berpenghasilan rendah dengan konsumen yang berpenghasilan tinggi. Diharapkan dengan pengenaan pajak tambahan berupa PPnBM terhadap konsumen yang mengkonsumsi barang kena pajak yang tergolong mewah, maka dampak regresif ini dapat ditekan.  Dengan kata lain asas keadilanlah yang melatar belakangi adanya pungutan lain selain PPN untuk konsumsi barang kena pajak yang tergolong mewah. Suatu sistem pemungutan pajak akan mendekati asas keadilan apabila beban pajak yang dipikulkan oleh wajib pajak sepadan dengan kemampuannya.  
Tapi kemudian menjadi masalah ketika definisi barang mewah di masyarakat cepat berubah dan bergeser. Contoh yang mudah ditemui adalah telepon seluler. Lima tahun yang lalu telepon seluler merupakan yang mewah karena selain harganya yang mahal juga jangkauan penerimaannya juga terbatas untuk daerah tertentu saja yang kebanyakan adalah perkotaan. Tapi lain yang terjadi sekarang hampir semua lapisan masyarakat mengkonsumsi telepon seluler bahkan sudah menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari. Dilain pihak peraturan yang mengatur barang kena pajak yang tergolong mewah tidak bisa mengantisipasi perubahan yang terjadi di masyarakat tersebut. 
Selain hal tersebut diatas perilaku konsumen juga mengalami pergeseran yang sangat signifikan baik secara individu maupun lingkungan ataupun keterkaitan antara keduanya. Bahkan dewasa ini perilaku konsumen tidak berasal dari konsumen tapi produsen bisa menciptakan perilaku konsumen untuk konsumennya. Contohnya adalah air minum dalam kemasan. Sebelum air minum dalam kemasan diproduksi, masyarakat memenuhi kebutuhan air minum sendiri dengan memasak air, kemudian produsen mengenalkan air minum dalam kemasan ke masyarakat luas disertai usaha untuk menciptakan persepsi bahwa air minum dalam kemasan lebih sehat, hegienis dan praktis. Kemudian pola konsumsi masyarakat terhadap kebutuhan air minum berubah, dari memasak sendiri menjadi membeli produk air minum dalam kemasan. 
Struktur masyarakat dan etnis menentukan sebagian besar dari apa yang dibeli dan digunakan oleh konsumen individual. Sistem hukum dan pemerintahan adalah bagian dari budaya suatu bangsa. Sistem tersebut menetukan apa yang dapat ditawarkan oleh penyuplai, cara – cara barang dapat dipasarkan dan tingkat dimana konsumen dibolehkan bertindak berdasarkan preferensi mereka. Apakah negara – negara akan mencurahkan sumber daya mereka untuk militer, industri atau barang konsumen. Apakah suatu bangsa akan menghasilkan mobil yang baik atau tank yank yang baik? Pendidikan yang baik atau kesehatan yang baik?  Komputer yang baik atau musik yang baik? Dan karena ketidakjenuhan permintaan mendiktekan bahwa tidak akan pernah cukup untuk semua, apakah barang ini harus tersedia terutama untuk kaum tua atau muda? Untuk kelompok etnis atau agama mana? Untuk orang yang berpendidikan terbaik atau untuk anggota dari keluarga “yang tepat” atau orang dari partai yang berkuasa? Pilihan seperti ini terjepit kuat oleh budaya dimana individu merupakan bagian darinya.
Perpajakan yang didalamnya terdapat unsur PPN dan PPnBM merupakan juga bagian dari kebijakan fiskal pemerintah. Konsumsi barang kena pajak yang tergolong mewah secara berlebihan pada umumnya dilakukan kelompok masyarakat yang berpenghasilan tinggi merupakan kegiatan yang kontraproduktif. Oleh karena itu, kegiatan konsumsi seperti ini perlu dikurangi. Salah satu sarana yang dapat ditempuh adalah diberikannya beban pajak tambahan terhadap kegiatan mengkonsumsi barang kena pajak yang tergolong mewah. Motif diatas itulah maka dengan kata lain, pemerintah dengan kebijakan fiskalnya yang termaterialkan dalam PPnBM, berusaha untuk mempengaruhi perilaku konsumen khususnya pola konsumsi barang kena pajak yang tergolong mewah.
Tetapi PPN berbeda dengan PPnBM. Bahkan bisa dikatakan bahwa PPnBM merupakan pajak yang kurang populer dimasyarakat umum. Hal itu bisa disebabkan karena karekter dari PPnBM itu sendiri yaitu; merupakan pungutan tambahan disamping PPN dan hanya dipungut satu kali yaitu pada saat import dan penyerahan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) pabrikan. Yang selanjutnya tidak ada mekanisme pajak keluaran dan pajak masukan. PPnBM oleh distributor akan dimasukkan ke harga pokok barang kena pajak yang tergolong mewah tersebut.
Maka tidak heran ada beberapa konsumen yang mengkonsumsi barang kena pajak yang tergolong mewah tersebut tidak mengetahui tentang PPnBM. Karena dari pihak Direktorat Jendral Pajak hanya mengsosialisasikan PPnBM ke importir dan PKP pabrikan. 
Salah satu kelompok barang kena pajak yang tergolong mewah adalah barang elektronika. Barang elektronika yang dikenakan PPnBM antara lain TV diatas 21’,  air conditioner (AC), radio cassette, mesin cuci, alat perekam atau reproduksi gambar, alat fotografi dan lain – lain. Bahkan bisa dikatakan sebagian besar kelompok barang kena pajak yang tergolong mewah selain kendaraan bermotor adalah barang elektronika. Di masyarakat sendiri barang elektronika merupakan barang yang paling cepat mengalami reposisi, yaitu dari barang mewah ke barang yang banyak dikonsumsi hampir semua lapisan masyarakat. Bahkan pada tanggal 30 Januari 2003 dengan keluarnya Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-06/PJ.51/2003 sebanyak 20 item barang elektronika dikeluarkan dari kelompok barang kena pajak yang tergolong mewah yang berarti tidak dikenakan lagi PPnBM serta 9 item barang elektronika yang mengalami penurunan tarif PPnBM.  
Oleh karena itu penulis ingin mengangkat uraian diatas dengan judul  Persepsi Konsumen Terhadap Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) Pada Barang Elektronika di Kota Malang”


                    1.2 Permasalahan dan Batasan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka permasalahan yang timbul adalah bagaimana persepsi konsumen terhadap keberadaan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) barang elektronika di kota Malang.
Penelitian ini membatasi permasalahan persepsi konsumen tersebut dari dua hal, yaitu stimuli fisik (physical stimuli) yang datang dari lingkungan sekitar dan stimuli yang berasal dari dalam individu itu sendiri.
1.3 Tujuan
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi konsumen barang elektronika di kota Malang terhadap keberadaan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM).

1.4 Kontribusi Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam :
1. Mensosialisasikan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) kepada konsumen barang kena pajak yang tergolong mewah terutama barang elektronika.
2. Memberikan bukti empiris lebih lanjut pada literatur Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), khususnya dalam aspek persepsi konsumen sebagai pihak yang mengkonsumsi barang mewah yang dikenakan PPnBM.
3. Memberikan masukan bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti tentang pajak konsumsi dalam persepsi konsumen.
4. Memberikan masukan (input) kepada pihak fiskus atau pemerintah selaku pembuat peraturan mengenai perpajakan yang dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan tarif, mekanisme pemungutan dan hal lain yang menyangkut perpajakan khususnya pajak konsumsi.



PERENCANAAN PAJAK MELALUI METODE PENYUSUTAN DAN REVALUASI AKTIVA TETAP UNTUK MEMINIMALKAN BEBAN PAJAK PERUSAHAAN (STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN GM)

28 10 2007
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Bangsa Indonesia saat ini sedang mengalami berbagai permasalahan di berbagai sektor khususnya sektor ekonomi atau biasa disebut dengan krisis ekonomi. Di dalam kondisi ekonomi saat ini, banyak perusahaan mengalami gulung tikar atau memutuskan untuk menutup usahanya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya meningkatnya tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing (dollar) yang mengalami penurunan. Pada tahun 1997 nilai tukar dollar sebesar Rp 2.300, 00 sampai Rp 5.000,00 per US $ 1, bahkan pada tahun 1998 nilai tukar dollar mencapai Rp 16.000,00 per US $ 1. Sebagai akibatnya perusahaan harus mengeluarkan biaya usaha yang besar untuk membiayai kegiatan usahanya, tetapi dengan pengeluaran yang besar tersebut, perusahaan tidak mendapatkan penghasilan yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkannya. Hal ini akan lebih terasa pada perusahaan yang mempunyai pinjaman atau hutang berupa dollar dalam jumlah yang besar, perusahaan yang tergantung pada barang impor atau perusahaan yang masih tergantung pada pihak asing.  Selain itu dampak dari krisis ekonomi menjadikan konsumsi masyarakat cenderung menurun atau daya beli menjadi rendah, akibatnya permintaan pasar terhadap produk sangat terbatas.
Dalam keadaan seperti ini, maka pemimpin perusahaan atau biasa disebut manajer perusahaan harus dapat menentukan keputusan serta tujuan dari perusahaan yang dipimpin atau dikendalikannya. Tugas manajer perusahaan adalah mengambil keputusan yang didasarkan pada keterpaduan antara fungsi bisnis yang meliputi bidang pemasaran, produksi, keuangan sumber daya manusia, penelitian serta pengembangan, dan fungsi manajerial yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan serta pengawasan. 
 Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan maka diperlukan suatu strategi yang diterapkan di dalam perusahaan antara lain:
            1. Meningkatkan produksi barang yang lebih sesuai dengan pasar.
            2. Menurunkan harga jual produk.
            3. Efisiensi sumber daya dan biaya produksi, diantaranya dengan:
            1. Mengurangi jam kerja tenaga kerja.
            2. Memperketat kehadiran dari para pekerja.
            3. Menghemat penggunaan bahan baku serta bahan penolong.
            4. Meningkatkan standar mutu perusahaan.
            5. Menggunakan bahan substitusi dalam memproduksi.
            6. Memperketat pengawasan tenaga kerja dalam proses produksi.

4. Meminimalkan beban pajak yang ditanggung perusahaan. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya:
1.      Perencanaan perpajakan untuk penyusutan aktiva tetap perusahaan.
2.      Perencanaan perpajakan melalui penilaian kembali (revaluasi) aktiva tetap perusahaan.
3.      Perencanaan perpajakan berdasarkan penentuan harga transfer (transfer pricing) perusahaan.
4.      Perencanaan perpajakan melalui manajemen persediaan.
5.      Perencanaan perpajakan dengan mendefinisikan revenue dan expense perusahaan. 
6.      Perencanaan perpajakan melalui pembelian aktiva.
7.      Perencanaan perpajakan melalui pemberian imbalan berupa uang atau berupa ventura.
8.      Perencanaan perpajakan melalui pemberian tunjangan berupa uang makan atau berupa makan.
9.      Perencanaan perpajakan melalui pembiayaan berupa obligasi.
10.  Perencanaan perpajakan dengan menangguhkan pendapatan.
11.  Perencanaan perpajakan dengan mempercepat atau segera membiayakan pengeluaran.
Dari beberapa pilihan alternatif yang ada untuk membantu mempertahankan perusahaan dalam menjalankan usahanya, peneliti ingin mengkaji lebih dalam tentang perencanaan perpajakan yang berkaitan dengan aktiva tetap, yaitu metode penyusutan aktiva tetap perusahaan dan penilaian kembali (revaluasi) aktiva tetap perusahaan. Hal ini penting, karena tidak semua perusahaan mengetahui tentang metode atau cara ini. Aturan pajak tentang penyusutan dan revaluasi ada dalam Undang Undang Pajak Penghasilan beserta aturan-aturan penjelas dan pelaksanaan yang ada dibawahnya, diantaranya Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 486/KMK.03/2002 tentang Penilaian Kembali (Revaluasi) Aktiva Tetap Perusahaan. Selain itu, kalaupun manajer perusahaan mengetahui metode atau cara tersebut, tidak semua perusahaan memutuskan untuk menggunakan cara ini, karena ada beban lain yang harus ditanggung perusahaan yaitu adanya PPh final sebesar 10% atas selisih revaluasi aktiva tetap perusahaan tersebut.
Ada beberapa penelitian studi kasus yang meneliti tentang penyusutan dan revaluasi aktiva tetap perusahaan sebelumnya. Namun, belum ada kesatuan kesimpulan atas penelitian tersebut. Oleh karena itu peneliti ingin menguji kembali dan menambahkan unsur nilai waktu dari uang untuk mengetahui berapa besar pengaruh perencanaan pajak ini dengan lebih tajam.   
 Berdasarkan hal tersebut maka peneliti ingin menetapkan judul penelitian skripsi ini sebagai berikut: “Perencanaan Pajak Melalui Metode Penyusutan Dan Revaluasi Aktiva Tetap Untuk Meminimalkan Beban Pajak Perusahaan (Studi Kasus Pada Perusahaan GM)”. 

1.2  RUMUSAN MASALAH
a.      Bagaimana pengaruh perencanaan metode penyusutan aktiva tetap terhadap beban pajak yang ditanggung oleh perusahaan.
b.      Bagaimana pengaruh perencanaan revaluasi aktiva tetap terhadap beban pajak yang ditanggung oleh perusahaan.
c.       Berapa penghematan pajak atas perencanaan pajak pada pembiayaan metode penyusutan dan revaluasi aktiva tetap yang tepat dengan mempertimbangkan faktor nilai waktu dari uang.

1.3  BATASAN MASALAH
a.      Penelitian ini dilakukan pada Perusahaan GM, sehingga tidak dapat digeneralisasikan pada perusahaan lain.
b.      Pada penelitian ini data utama diperoleh berdasarkan data sekunder yaitu laporan keuangan, serta data pendukung berupa observasi serta wawancara terstruktur.
c.       Data yang diambil adalah data mulai tahun 2001 sampai dengan tahun 2005.
d.      Peraturan yang digunakan adalah peraturan Perpajakan Indonesia.
e.      Laporan keuangan perusahaan diasumsikan benar.  

1.4  TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1.4.1  Tujuan Penelitian
a.      Mengetahui pengaruh metode penyusutan aktiva tetap terhadap beban pajak yang ditanggung oleh perusahaan.
b.      Mengetahui pengaruh revaluasi aktiva tetap terhadap beban pajak yang ditanggung oleh perusahaan.
c.       Mengetahui jumlah penghematan pajak mempertimbangkan nilai waktu dari uang.

1.4.2  Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini manfaat yang diperoleh adalah:
1.      Sebagai penambah wawasan pada perusahaan tentang usaha meringankan beban pajak dengan tidak melanggar Undang-Undang (Tax avoidance).
2.      Sebagai masukan pada Pemerintah untuk mengambil langkah-langkah perbaikan dan peningkatan kinerja dalam menentukan atau menetapkan suatu kebijakan sehingga dapat mengurangi kebocoran-kebocoran dalam bidang perpajakan.
3.      Sebagai sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan serta untuk mengevaluasi sejauh mana sistem pendidikan telah dijalankan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi.
4.      Sebagai bahan referensi, sumbangan bagi peneliti lain yang berkeinginan melakukan pengamatan secara mendalam, khususnya pada kajian atau permasalahan yang serupa.



ANALISA EFEKTIFITAS PEMUNGUTAN PAJAK MELALUI SISTEM RETRIBUSI DAN SISTEM KETETAPAN PAJAK SERTA KONTRIBUSINYA TERHADAP PENERIMAAN ASLI DAERAH KABUPATEN MALANG

28 10 2007
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya pajak merupakan iuran wajib rakyat kepada negara. Dari pajak ini yang mana akan digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan.  Sejak tahun 1999 pembagian pajak menurut wewenang pemungutan pajak dipisahkan menjadi pajak pusat dan pajak daerah.  Pajak pusat yang dipungut oleh pemerintah pusat terdiri dari pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai.  Untuk pajak daerah dipungut oleh pemerintah daerah itu sendiri. Dasar dilakukan pemungutan oleh pemerintah  daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah mengatakan bahwa bahwa Pemerintah dan masyarakat di daerah dipersilahkan mengurus rumah tangganya sendiri secara bertanggung jawab. Pemerintah Pusat tidak lagi mempatronasi, apalagi mendominasi mereka.  Peran Pemerintah Pusat dalam konteks Desentralisasi ini adalah melakukan supervisi, memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan otonomi daerah.  Dengan adanya otonomi daerah, maka pemerintah daerah diberikan wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya. Langkah – langkah yang perlu dimbil dengan cara menggali segala kemungkinan sumber keuangannya sendiri sesuai dengan dan dalam batas-batas peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Untuk merealisasikan pelaksanaan Otonomi Daerah maka sumber pembiayaan pemerintah daerah tergantung pada peranan PAD.  Hal ini diharapkan dan diupayakan dapat menjadi penyangga utama dalam membiayai kegiatan pembangunan di daerah. Oleh karena itu Pemerintah daerah harus dapat mengupayakan peningkatan penerimaan yang berasal dari daerah sendiri sehingga akan memperbesar tersedianya keuangan daerah yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan pembangunan.  Dengan ini akan semakin memperbesar keleluasaan daerah untuk mengarahkan penggunaan keuangan daerah sesuai dengan rencana, skala prioritas dan kebutuhan daerah yang bersangkutan.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat serta melaksanakan pembangunan daerah, maka daerah membutuhkan sumber-sumber penerimaan yang cukup memadai.  Sumber-sumber penerimaan daerah ini dapat berasal dari bantuan dan sumbangan pemerintah pusat maupun penerimaan yang berasal dari daerah sendiri.  Namun, perlu digaris bawahi bahwa tidak semua daerah memiliki kekayaan alam.  Hal ini tentu akan membuat daerah yang kaya akan potensi daerah yang dimiliki akan semakin maju yang mana tentunya bertolak belakang bagi daerah yang memiliki potensi yang kurang.  Kiranya dengan ini asas ini pemerintah perlu memberikan jalan keluar agar seluruh daerah yang ada di Indonesia berkembang secara merata.
Di dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah disebutkan bahwa sumber pendapatan daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak. Pendapatan Asli Daerah sendiri terdiri dari :
a. Pajak Daerah;
b. Retribusi Daerah
c. Hasil pengolahan kekayaan daerah yang dipisahkan
d. Lain-lain PAD yang sah.  

Pendapatan Asli Daerah sebagai salah satu sumber penerimaan daerah mempunyai peranan penting dalam pembangunan.  Hal ini dapat dilihat dalam pelaksanaan Otonomi Daerah dimana peranan PAD diharapkan dan diupayakan dapat menjadi penyangga utama dalam membiayai kegiatan pembangunan di daerah.  Oleh karena itu pemerintah daerah harus dapat mengupayakan peningkatan penerimaan yang berasal dari daerah sendiri.  Dengan demikian akan memperbesar tersedianya keuangan daerah yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan pembangunan yang bersifat mandiri.
Kabupaten Malang sebagai bagian dari Propinsi Jawa Timur  tentunya memerlukan dana yang cukup besar dalam menyelenggarakan kegiatan pembangunan daerah di berbagai sektor. Dana pembangunan tersebut diusahakan sepenuhnya oleh pemerintah daerah dan bersumber dari penerimaan pemerintah daerah Kabupaten Malang sendiri. Sumber pembiayaan kebutuhan pemerintah yang mana biasa dikenal dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) berasal dari pengolahan sumber daya yang dimiliki daerah di samping penerimaan dari pemerintah propinsi, pemerintah pusat serta penerimaan daerah lainnya.  Sejalan dengan upaya untuk mengingkatkan serta menggali sumber-sumber penerimaan daerah, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Malang berusaha secara aktif untuk meningkatkan serta menggali sumber-sumber penerimaan daerah terutama penerimaan yang berasal dari daerah sendiri.  Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat dalam pembiayaan pembangunan daerah.
Kemampuan keuangan daerah di dalam membiayai kegiatan pembangunan didaerah merupakan pencerminan dari pelaksanaan otonomi di daerah. Untuk melihat kemampuan Pemeritah Kabupaten Malang dalam menghimpun penerimaan daerah baik penerimaan yang berasal dari sumbangan dan bantuan pemerintah pusat maupun penerimaan yang berasal dari daerah sendiri.  Hal ini dapat dilihat dalam APBD yang biayanya bersumber dari PAD dengan tingkat kesesuaian yang mencukupi pengeluaran pemerintah daerah.
Upaya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah tentunya tidak terlepas dari peranan masing-masing komponen Pendapatan Asli Daerah.  Komponen yang ada seperti penerimaan pajak daerah, retribusi daerah, bagian laba perusahaan milik daerah, penerimaan dinas-dinas serta penerimaan daerah lainnya.  Ini merupakan beberapa komponen yang menjadi sumber penerimaan daerah dimana tentunya akan terus digali baik yang sudah ada maupun sumber penerimaan baru yang potensial.
Jenis-jenis Pajak Daerah yang ditetapkan dan dapat dipungut oleh Pemerintah Kabupaten Malang dalam upaya menghimpun dana guna meningkatkan kualitas maupun kuantitas pembangunan daerah saat ini terdiri atas delapan jenis Pajak Daerah (Dispenda Malang), antara lain Pajak Hotel dan Restoran, Pajak Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan galian Golongan C, Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan,  Pajak Parkir dan pajak sarang burung.
Untuk dapat memungut pajak tersebut pemerintah menggunakan sistem pemungutan melalui official assessment sistem dan self assessment system . Sistem pemungutan ini dilakukan melalui dua cara yaitu surat ketetapan pajak dan retribusi.  
Dari kedua cara ini diharapkan target pemenuhan penerimaan pajak dapat terealisasi. Pada tabel 1.1 target dan penerimaan pajak daerah yang diharapkan melalui kedua cara tersebut adalah sebagai berikut: 
Tabel 1.1
Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Daerah Kabupaten Malang 
Tahun 2003 Hingga 2005

Sumber : Dinas Pendapatan Kabupaten Malang
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa pada tahun 2003 hingga 2005 target penerimaan pajak rata – rata selalu tercapai bahkan melebihi target yang ditetapkan. Namun yang menjadi perhatian adalah dari hasil realisasi tersebut menunjukan  bahwa pemerintah dari tahun ke tahun menetapkan terget yang cenderung tetap. Berdasar pada perkembangan realisasi pajak sebenarnya pemerintah dapat meningkatkan target penerimaan pajaknya.  Hal ini dapat dikatakan bahwa pemerintah tidak mengetahui potensi yang dimiliki oleh daerahnya tersebut.
Dari beberapa macan pajak tersebut yang hendak menjadi perhatian adalah penerimaan pajak dari sektor pengolahaan bahan galian golongan C.  Pada sektor ini nilai reralisasi yang tercapai tidak terlalu besar dibandingkan dengan pajak yang lainnya. Dari perkembangan penerimaannya dari sektor pajak ini telah mengalami penurunan pada tahun 2005 sebesar 2,42 % dibandingkan dengan sektor pajak yang lainnya. Dari dasar ini dapat diketahui bahwa dari sektor pajak daerah belum terlalu memberikan pemasukan dari sistem pemungutannya.  Dasar ini yang menjadikan penulis ingin melakukan penelitian terhadap sistem pemungutan yang dilakukan terhadap sektor pajak daerah khususnya pajak bahan galian gol C.  Hal tersebut dikarenakan mengingat pajak yang lain mengunakan sistem yang sama.  Sehingga penulis merumuskannya dalam skripsi dengan mengangkat judul “Analisa efektifitas pemungutan pajak bahan galian golongan C melalui retribusi dan surat ketetapan pajak serta kontribusinya terhadap penerimaan asli daerah Kabupaten Malang.”
1.2. Perumusan Masalah.
Berdasarkan uraian pada latar belakang maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1.      Sejauhmana efektifitas yang dihasilkan sistem pemungutan melalui  retribusi dan surat ketetapan pajak dari pajak bahan galian Gol. C.
2.      Berapa kontribusi yang diberikan sistem retribusi dan sistem ketetapan pajak ini terhadap Pendapatan Asli Daerah dari pajak bahan galian golongan C. 

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengatahui efektifitas yang dihasilkan dari sistem pemungutan yang dipakai bagi penerimaan daerah Kabupaten Malang.
2.      Untuk mengetahui besarnya kontribusi yang diberikan terhadap Penerimaan Asli Daerah.

1.3.2.Manfaat Penelitian
1.      Secara akademik untuk memenuhi salah satu syarat untuk mencapai kebulatan studi program strata satu (S1) pada Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang.
2.      Hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah dalam mengambil kebijaksanaan dalam uahanya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah guna membiayai pembangunan daerah khususnya penerimaan yang berasal dari pajak daerah. Diharapkan sebagai bahan dan informasi bagi peneliti selanjutnya terhadap masalah dan tempat yang sama dengan kajian yang lebih mendalam untuk meningkatkan penerimaan pajak bahan galian golongan C di Kabupaten Malang



PROSEDUR PENGHITUNGAN DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN (PPh) PASAL 21 ATAS GAJI PEGAWAI PADA KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA MADIUN

27 10 2007
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 . Latar Belakang Masalah
Pembangunan adalah kegiatan yang berkesinambungan dengan tujuan utama adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Untuk mewujudkan tujuan tersebut perlu memperhatikan masalah pembiayaan pembangunan. Pembangunan dapat dilaksanakan dengan lancar apabila ada sumber dana yang mendukung. Menurut APBN sumber pendapatan terbanyak didapat dari sektor perpajakan  meskipun masih banyak sektor lain seperti minyak dan gas bumi, serta bantuan luar negeri. Hal ini bisa dibuktikan saat negara kita dilanda krisis berkepanjangan sampai saat inipun masih diragukan apakah negara kita bisa menumbuhkan keadaan perekonomian, sektor pajak masih tetap memiliki nilai besar bahkan mengalami kenaikan serta menembus sampai pada prosentase terbesar dari sektor non migas sementara sektor non migas cenderung mengalami penurunan dan juga bantuan luar negeri yang bunganya bisa membesar seiring fluktuasi mata uang dolar terhadap rupiah. Diharapkan pemasukan dari pajak terus dinaikkan salah satunya dengan mengadakan kebijakan–kebijakan baru seperti ekstensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi perpajakan dilaksanakan dengan cara meningkatkan jumlah pajak dan obyek pajak baru sedangkan intensifikasi perpajakan dilaksanakan dengan berorientasi pada peningkatan kepatuhan dan kesadaran wajib pajak, suatu misal dengan cara pengadaan penyuluhan langsung pada masyarakat. Dengan banyaknya perusahaan baru yang muncul ataupun yang sudah lama serta instansi–instansi pemerintah diharapkan pemasukan dari pajak penghasilan yang digunakan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional nantinya.
            Pajak merupakan iuran wajib yang diberlakukan pada setiap wajib pajak atas obyek pajak yang dimilikinya dan hasilnya diserahkan kepada pemerintah. Jenis pajak yang diberlakukan di Indonesia diantaranya adalah Pajak Penghasilan, Pajak Bumi dan Bangunan, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Hadiah dan lain-lain.
Pajak penghasilan merupakan pajak yang dipungut pada obyek pajak atas penghasilannya. Pajak penghasilan akan selalu dikenakan terhadap orang atau badan usaha yang memperoleh penghasilan di Indonesia. Pajak yang berlaku bagi pegawai/karyawan adalah pajak penghasilan pasal 21. Undang-undang yang dipakai untuk mengatur besarnya tarif pajak, tata cara pembayaran dan pelaporan pajak adalah Undang-undang No.17 tahun 2000 yang merupakan penyempurnaan bagi undang-undang terdahulunya yaitu Undang-undang No.10 tahun 1994. Undang-undang pajak penghasilan telah menetapkan sistem pemungutan pajak penghasilan secara self assessment, dimana wajib pajak diberi kepercayaan dan tanggung jawab penuh dari pemerintah untuk menghitung, membayar dan melaporkan sendiri jumlah pajak yang terhutang. Dengan sistem ini pemerintah berharap agar pelaksanaan pemungutan pajak penghasilan dapat berjalan dengan lebih mudah dan lancar.
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk menulis mengenai bagaimana instansi/perusahaan menentukan besarnya pajak penghasilan pegawai atau karyawan yang harus dilaporkan dan disetor pemerintah dengan judul : 
“PROSEDUR PENGHITUNGAN DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN (PPH) PASAL 21 ATAS GAJI PEGAWAI PADA KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA (KPPN) MADIUN’’.

1.2. Ruang Lingkup PKN
Ruang Lingkup  yang dibuat dalam penyusunan laporan PKN ini agar dalam proses penulisan dan pembahasan tidak melebar dan dapat difokuskan pada suatu pokok bahasan, maka penulis berusaha membuat suatu ruang lingkup yang   meliputi :
1.      1. Untuk menghitung besarnya PPh pasal 21 berdasarkan data yang diperoleh dari    Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Madiun.
2.      Untuk mengetahui prosedur penghitungan dan pelaporan pajak penghasilanpasal  21 pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara  Madiun.

1.3. Tujuan Dan Kegunaan Penulisan Laporan PKN
1.3.1. Tujuan Penulisan Laporan PKN 
Ada beberapa tujuan dari penulisan laporan PKN yaitu :
1.      Untuk membandingkan antara teori dan materi yang dipelajari pada masa kuliah dengan praktek nyata yang terjadi di dalam perusahaan atau instansi pemerintah.
2.      Untuk mengetahui apakah perusahaan atau instansi yang bersangkutan telah melakukan penghitungan dan pemotongan Pajak Penghasilan sesuai dengan Undang-Undang Perpajakan yang berlaku.
3.      Sebagai media memberikan pemecahan-pemecahan yang dianggap perlu yang timbul antara teori dan penerapan penghitungan Pajak Penghasilan.
4.      Untuk mengetahui besarnya pajak yang diserahkan perusahaan/instansi yang bersangkutan pada pemerintah.

1.3.2. Kegunaan Penulisan Laporan PKN 
1. Bagi Mahasiswa adalah :
Guna memenuhi salah satu syarat kelulusan pada program D-3 Perpajakan.
·          Sebagai media untuk menambah wawasan dan menguji kemampuan mahasiswa berkaitan dengan penghitungan dan pelaporan PPh pasal 21.
·          Mendapatkan pengalaman praktis tentang kegiatan nyata dalam aktivitas perusahaan berkaitan dengan perhitungan dan pemotongan PPh pasal 21.
·          Sebagai sarana untuk memperdalam kreatifitas dan ketrampilan mahasiswa berkaitan dengan mata kuliah Perpajakan.
2. Bagi Perusahaan/instansi adalah :
-          Sebagai sumbangan informasi yang dapat dipakai sebagai bahan evaluasi untuk membantu menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan Pajak Penghasilan pasal 21.
-          Sebagai sarana untuk menjalin hubungan kerja dengan lembaga pendidikan yang bersangkutan.

   3.   Bagi lembaga pendidikan adalah :
-          Sebagai sarana evaluasi sampai sejauh mana sistem atau kurikulum pendidikan yang dijalankan secara praktis dalam perusahaan/instansi.
-          Sebagai tolak ukur kemampuan mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan pajak Penghasilan pasal 21.
-          Sebagai media untuk menjalin hubungan kerja dengan perusahaan/instansi yang dijadikan sebagai tempat PKN.

 1.4. Metode Pengumpulan Data
Metode merupakan cara utama yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam mengumpulkan data dan mengevaluasinya. Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode pengumpulan dan analisa data.

1.4.1. Jenis dan Metode Pengumpulan Data 
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri dari beberapa metode yaitu:
            1. Observasi (pengamatan).
Observasi ialah suatu teknik pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian yang merupakan sumber data, sehingga data yang diperoleh benar-benar bersifat obyektif. Observasi atau pengamatan ini dilakukan di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Madiun.
Data-data yang bisa diambil melalui metode ini :
            a. Data tentang proses perhitungan PPh pasal 21.
            b. Data daftar gaji.
            2. Interview (wawancara).
Interview merupakan suatu teknik pengumpulan data dimana peneliti melakukan wawancara langsung dengan obyek yang diteliti. Interview atau juga wawancara seperti halnya teknik observasi dilakukan secara bersamaan di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Madiun. Dalam interview tidak lupa harus disiapkan pedoman apa yang akan ditanyakan.
Data yang dapat diperoleh melalui cara ini :
            a. Data jumlah pegawai.
            b. Data daftar gaji serta didasarkan atas apa gaji diberikan.
            3. Dokumentasi.
Dokumentasi ialah suatu teknik pengumpulan data dengan mempergunakan data-data yang ada dalam dokumen instansi. Dokumentasi data dilakukan di kantor Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Madiun.
Melalui metode ini data yang mungkin dapat diambil adalah :
            a. Data daftar gaji beserta tunjangan dan potongan-potongan yang dikenakan.
            b. Data perhitungan yang dilakukan dalam pemotongan PPh pasal 21.
            c. Sejarah pendirian instansi.
                         
1.4.2. Metode Analisa Data
      Untuk menganalisa data yang diperoleh, penulis mengadakan metode analisis data yaitu :
            a)  Data Kuantitatif.
Metode analisa data ini dilakukan hampir bersamaan saat langsung memperoleh data, dalam metode ini diperlukan kalimat pembanding antara data yang diperoleh dengan teori yang ada di literatur sehingga informasi dari pihak instansi dapat diketahui permasalahan yang ada, apa yang menyebabkan dan bagaimana akibatnya apabila masalah tersebut tidak segera diatasi dan pencarian solusi masalah. Data yang dianalisa adalah perhitungan Pajak Penghasilan pasal 21 yang dikenakan.
            b)  Data Kualitatif.
Metode analisa data ini berkaitan dengan data instansi yang berupa data non angka dan data tersebut seperti contohnya adalah kebijakan dari instansi dalam penentuan besarnya gaji dan besarnya tunjangan yang diperoleh oleh pegawai.

1.4.3. Sumber Data
   Dalam menyusun laporan tugas akhir ini penulis memerlukan data-data yang terbagi atas berbagai macam, meliputi :
   1) Data Primer.
 Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari obyek yang diteliti dan    merupakan data yang bisa diolah dan belum diolah pihak lain, yang termasuk data primer : 
a.  Data tentang pemberian tunjangan dan potongan dari gaji pokok.
b. Data jumlah pegawai.
   2) Data Sekunder.
 Data sekunder yaitu data yang diperoleh tidak langsung yang merupakan data yang telah diolah. Dari data yang diperoleh dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Madiun, yang termasuk data sekunder adalah :
                        a.  Profil Instansi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Madiun.
b. Bidang kerja Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Madiun.

1.5. Sistematika Pembahasan
      Untuk mempermudah penyusunan dan pembahasan isi materi laporan ini kami akan membagi sistem pembahasan dalam 5 (lima) bab yang secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut :
   BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini diuraikan mengenai bidang yang diteliti, tujuan dan kegunaan penelitian, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
   BAB II : LANDASAN TEORI
Bab ini berisi tentang pengertian pajak, fungsi pajak, pengelompokan pajak, asas dan syarat pemungutan pajak, serta teori yang mendukung pemungutan pajak. Dalam bab ini juga menjelaskan tentang pengertian penghasilan, Pajak Penghasilan, obyek penghasilan, definisi pajak penghasilan pasal 21 beserta subyek dan obyeknya, pemotong pajak beserta hak dan kewajibannya, hak dan kewajiban wajib pajak PPh pasal 21, tata cara dan sistem pemungutan pajak.
   BAB III : KEGIATAN SELAMA PKN
Pada bab ini berisi gambaran umum lokasi PKN, observasi secara menyeluruh mengenai kegiatan yang ada khususnya dalam hal mekanisme perhitungan, pemotongan, penyetoran, sampai pada pelaporan.
   BAB IV : EVALUASI
Dalam bab ini berisi tentang evaluasi pada mekanisme perhitungan dan evaluasi tentang tata cara perhitungan dan pelaporan PPh pasal 21.
   BAB V : PENUTUP
Bab ini menyajikan kesimpulan-kesimpulan dari laporan PKN dan beberapa saran yang mungkin berguna bagi pihak instansi.



PENGARUH SELF ASSESSMENT SYSTEM TERHADAP PENERIMAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PADA PENGUSAHA KENA PAJAK (Studi Kasus Kantor Pelayanan Pajak Batu)

26 10 2007
ABSTRAKSI

Pajak merupakan tumpuan sumber penerimaan Negara, dan berdasarkan jenisnya Pajak Penghasilan (PPh) telah memberikan kontribusi terbesar, namun PPh hanya dapat dikenakan kepada mereka yang telah memiliki penghasilan diatas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Hal tersebut tidak berlaku bagi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) karena pengenaan PPN dapat dilimpahkan kepada orang lain dan seperti yang kita ketahui bahwa hampir semua barang maupun jasa yang dikonsumsi di Indonesia merupakan Barang Kena Pajak (BKP), oleh karena itu PPN disebut juga sebagai pajak yang objektif. PPN sebagai penerimaan negara dipungut dengan menggunakan sistem self assessment yang memberikan wewenang bagi PKP untuk mendaftar, menghitung, dan melaporkan sendiri pajak terutangnya sehingga  penulis tertarik untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh penerapan sistem self assessment terhadap penerimaan PPN pada PKP. Penelitian ini hanya melihat pelaksaan sistem murni dari sisi PKP sehingga variabel-variabelnya adalah variabel jumlah PKP terdaftar, SPT Masa PPN yang dilaporkan, serta SSP PPN yang disetor yang ketiganya merupakan sarana dan wujud nyata dari sistem self assessment yaitu wewenang wajib pajak untuk menghitung, melapor, dan menyetorkan sendiri pajak terutang. Lingkup penelitian ini adalah pada KPP Batu dengan menggunakan regresi linier berganda sebagai metode analisanya. Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa ketiga variabel bebas dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penerimaan PPN namun hanya PKP saja yang memiliki arah negatif. Selain itu hasil penelitian juga menunjukkan bahwa SSP yang disetor merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi penerimaan PPN.
ABSTRACTION
Tax is the country main income revenue and due to of its type, Income Tax (PPH) has given the biggest contribution, but PPH can only be imposed to them which have owned income above Income That Not Taxable (PTKP). This was not applicable to Value Added Tax (PPN) because imposition of PPN can be overflowed to other people, and such as those which we know that most of all consumed service and also goods in Indonesia represent Taxable Goods (BKP), therefore PPN also referred as objective tax. PPN as the main income revenue is collected by using self assessment system which is giving authority to PKP to enlist, counting, calculating, and reporting by PKP itself. So the writer want to know how is the influence of applying self assessment system to the revenue of PPN for PKP. This Research only seeing the application pure system form PKP side so the variables is variable of the amount of PKP enlist, reported monthly SPT PPN, and also SSP PPN which remit third of the representation of real form and the medium of self assessment system that is taxpayer authority to count and calculate, report, and paying the tax liabilities by itself. This Research scope is at KPP Batu and using doubled linear regression as its analysis method. The research result have indicated that the third free variable in this research have significance influence to the revenue of PPN but only just PKP variable which have negative direction. Besides that the research results also indicate that SSP which paid is the most dominant variable which is influencing the revenue of PPN.
 


BAB I
PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG
 Indonesia saat ini sedang mengalami berbagai permasalahan di berbagai sektor khususnya sektor ekonomi. Naiknya harga minyak dunia, tingginya tingkat inflasi, naiknya harga barang-barang dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika serta turunnya daya beli masyarakat telah menjadi masalah yang sangat rumit yang harus diselesaikan oleh pemerintah.
 Untuk tetap dapat bertahan dan memperbaiki kondisi ekonomi yang ada, pemerintah harus mengupayakan semua potensi penerimaan yang ada. Pada saat ini tengah digali berbagai macam potensi untuk meningkatkan penerimaan negara, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Namun seiring dengan berkembangnya kemampuan analisis para praktisi ekonomi yang menyatakan bahwa mengandalkan pinjaman dari luar negeri sebagai salah satu sumber penerimaan negara hanya akan menjadi bumerang dikemudian hari, potensi penerimaan dari pinjaman luar negeri akan semakin dikurangi.
Berdasarkan hal tersebut maka Indonesia akan berusaha untuk lebih meningkatkan potensi penerimaan negara dari dalam negeri, dan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pajak telah memberikan kontribusi terbesar dalam penerimaan negara. 
 Penerimaan dari sektor pajak terbagi menjadi dua golongan, yaitu dari pajak langsung contohnya pajak penghasilan dan dari pajak tidak langsung contohnya pajak pertambahan nilai, bea materai, bea balik nama. Memang, dilihat dari segi penerimaan, Pajak Panghasilan dapat membantu negara dalam membiayai pengeluaran, namun tidak semua orang dapat dikenakan PPh. Pajak Penghasilan hanya dapat dikenakan kepada orang pribadi atau badan yang telah berpenghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Pajak Pertambahan Nilai, karena pajak tersebut dapat dilimpahkan kepada orang lain sehingga memungkinkan semua orang dapat dikenakan PPN. Dan juga seperti yang kita ketahui bahwa hampir seluruh barang-barang kebutuhan hidup rakyat Indonesia merupakan hasil produksi yang terkena PPN.
Dengan kata lain, hampir semua transaksi di bidang perdagangan, industri dan jasa yang termasuk dalam golongan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak pada prinsipnya terkena PPN. Oleh karena itu walaupun seseorang belum memiliki NPWP namun ia tetap terkena PPN namun dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak sebagai pihak yang berhak memungut PPN yang nantinya PPN yang dipungut tersebut akan disetorkan ke kas Negara.
Dalam melakukan pemungutan pajak tersebut Indonesia menganut tiga sistem, Official Assessment System, Self Assessment System, dan Withholding System. Ketiga sistem diatas mempunyai keistimewaan masing-masing. Namun yang memiliki peranan yang lebih dominan adalah pada self assessment system karena diterapkan pada sistem pemungutan Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, serta sebagian pada Pajak Bumi dan Bangunan.
Pelaksanaan sistem yang baik akan dapat meningkatkan penerimaan karena semuanya dilakukan sesuai dengan sistem yang telah ditetapkan. Penggunaan sistem self assessment menuntut Wajib Pajak untuk aktif dalam melaksanakan kewajiban maupun hak perpajakannya. Dilain pihak kondisi ekonomi saat ini, seperti tingginya inflasi, menurunnya daya beli masyarakat, dan naiknya harga barang-barang akan mempengaruhi tingkat konsumsi masyarakat, dan tentunya berpengaruh terhadap penerimaan PPN karena PPN adalah pajak atas konsumsi. Turunnya tingkat konsumsi konsumen juga akan mempengaruhi kondisi produsen dalam hal ini yang dimaksud adalah para Pengusaha Kena Pajak (PKP). 
Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai bagaimana pengaruh diterapkannya sistem self assessment tersebut pada para PKP dalam melaksanakan kewajiban PPN-nya terhadap penerimaan PPN. Penelitian yang dilakukan ini hanya melihat dari dalam sistem itu sendiri dan tidak memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat, karena kenyataannya pelaksanaan sistem self assessment tersebut tidak memperhatikan bagaimana kondisi ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat karena bagaimanapun kondisinya sistem self assessment tetap harus berjalan dengan baik. 
Dengan argumen-argumen tersebut maka penulis menetapkan judul bagi penulisan skripsinya yaitu: “Pengaruh Self Assessment System Terhadap Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai Pada Pengusaha Kena Pajak (Studi Kasus Kantor Pelayanan Pajak Batu).


1.2. RUMUSAN MASALAH
            1. Apakah variabel jumlah PKP terdaftar, SPT Masa PPN yang dilaporkan, serta SSP PPN yang disetor yang ketiganya merupakan sarana dan wujud nyata dari sistem self assessment yaitu wewenang wajib pajak untuk menghitung, melapor, dan menyetorkan sendiri  berpengaruh terhadap penerimaan Pajak Pertambahan Nilai?
            2. Dari ketiga variabel tersebut, variabel manakah yang paling besar mempengaruhi penerimaan Pajak Pertambahan Nilai?


1.3. BATASAN MASALAH
            1. Sistem self assessment dalam penelitian ini dicerminkan dari variabel jumlah PKP terdaftar, SPT Masa PPN yang dilaporkan, serta SSP PPN yang disetorkan. 
            2. Batasan lokasi penelitian adalah pada Kantor Pelayanan Pajak Batu.
            3. Pada penelitian ini data diperoleh berdasarkan data sekunder, observasi serta wawancara tidak berstruktur tanpa menggunakan kuisioner.
            4. Data yang diambil adalah data per bulan sejak Januari 2003 sampai dengan Desember 2005. 
            5. Dasar penentuan variabel adalah tinjauan pustaka, penelitian sebelumnya, dan peraturan perundang-undangan.
            6. Analisis regresi yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda.



1.4. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1.4.1. Tujuan
            1. Mengetahui pengaruh penerapan sistem self assessment yang dicerminkan dari pertumbuhan jumlah PKP terdaftar, SPT Masa PPN yang dilaporkan, serta SSP PPN yang disetorkan terhadap penerimaan Pajak Pertambahan Nilai pada Pengusaha Kena Pajak.
            2. Menganalisis variabel manakah yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap penerimaan Pajak Pertambahan Nilai.


1.4.2. Manfaat Penelitian
            1. Bagi Peneliti
Untuk menerapkan ilmu yang diperoleh dibangku kuliah dan mempraktekkannya sesuai dengan kondisi yang ada.
2. Bagi Instansi Terkait
Sebagai bahan informasi pelengkap atau masukan sekaligus pertimbangan bagi pihak-pihak yang berwenang yang berhubungan dengan penelitian ini dalam penetapan kebijakan pada pelaksanaan atau penggunaan suatu sistem pemungutan yang diterapkan pada Pajak Pertambahan Nilai untuk dapat mengoptimalkan penerimaan pajak negara.
3. Bagi Fakultas
Sebagai sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan serta untuk mengevaluasi sejauh mana sistem pendidikan telah dijalankan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai tambahan informasi dan masukan untuk membantu memberikan gambaran yang lebih jelas bagi para peneliti yang ingin melakukan penelitian mengenai perpajakan secara umum dan juga mengenai penerapan sistem self assessment terhadap Pajak Pertambahan Nilai.

pajak

UDUL AKUNTANSI 01

JUDUL AKUNTANSI TERBARU

  • ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENURUNAN PENERIMAAN PAJAK PENGHASILAN PERSEORANGAN (Study Kasus Pada Kantor Pelayanan Pajak Batu)
  • Perlakuan Akuntansi Untuk Pendapatan Asli Daerah (Studi Kasus Pada Dinas Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Tuban)
  • EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI PENGELOLAAN PIUTANG DAGANG DALAM USAHA MENINGKATKAN RENTABILITAS PADA PERUSAHAAN INDAH CEMERLANG
    SINGOSARI MALANG
  • ANALISIS LAPORAN KEUANGAN SEBAGAI ALAT UNTUK MENILAI KEBERHASILAN DALAM MENGELOLA MODAL KERJA PADA PERUSAHAAN INDAH CEMERLANG MALANG
  • PENGARUH KINERJA PERUSAHAAN TERHADAP HARGA PASAR SAHAM
    (Studi Pada Perusahaan LQ-45 yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta)
  • PERENCANAAN PAJAK (TAX PLANNING) DALAM UPAYA MENUJU EFISIENSI PEMBAYARAN BEBAN PAJAK PADA PT. MENTARI MASSEN TOYS INDONESIA
  • EFEKTIFITAS PERENCANAAN PAJAK DALAM UPAYA EFISIENSI PEMBAYARAN BEBAN PAJAK PADA PT. SUMAR JATI LUHUR PRIMA NGANJUK
  • ANALISIS PERENCANAAN PAJAK (TAX PLANNING) PADA PERUSAHAAN MEDIA CETAK “MALANG POS” CEMERLANG MALANG
  • PELAKSANAAN PEMERIKSAAN MANAJEMEN PEMASARAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS BAGIAN PEMASARAN PADA PERUSAHAAN KERAMIK SOEHARTO
  • ANALISIS EFEKTIVITAS PENGENDALIAN KEGIATAN PRODUKSI UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI BIAYA PRODUKSI PADA PERUSAHAAN ACCA GARMENT MALANG
  • PENERAPAN METODE ACTIVITY BASED COSTING UNTUK MENINGKATKAN KEAKURATAN PENGHITUNGAN PROFITABILITAS PADA PT. PAYUNG PUSAKA JAYA KEDIRI
  • ANALISIS PENGELOLAAN KAS DALAM MENINGKATKAN RENTABILITAS PADA PERUSAHAAN SINAR REJEKI TERANG
    GRESIK
  • EFEKTIFITAS PEMUNGUTAN PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH DALAM RANGKA MENSUKSESKAN OTONOMI DAERAH DI KABUPATEN MALANG
  • PEMERIKSAAN MANAJEMEN DALAM USAHA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS MANAJEMEN PADA BAGIAN PRODUKSI PT. INDUSTRI SANDANG II (Persero) UNIT PATAL LAWANG MALANG
  • ANALISIS LAPORAN KEUANGAN SEBAGAI ALAT UNTUK MENILAI KEBERHASILAN DALAM MENGELOLA MODAL KERJA PADA PERUSAHAAN INDAH CEMERLANG MALANG
  • Perlakuan Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pengaruhnya Terhadap Laporan Keuangan PT. CCC AUTO INDONESIA
  • ANALISIS SELISIH BIAYA PRODUKSI UNTUK MENILAI TINGKAT EFISIENSI BIAYA PRODUKSI PADA PT. RYUDENDY MALANG
  • ANALISIS RATIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT BAGI MANAJEMEN UNTUK MENILAI KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN PADA PT. ARGO PANTES Tbk. DI BURSA EFEK JAKARTA
  • ANALISIS PENERAPAN LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN SEBAGAI DASAR PENGENDALIAN BIAYA PRODUKSI DI MASA MENDATANG: STUDI PADA PERUSAHAAN MINUMAN BREAKDANCE REMBANG
  • Perilaku Harga Saham Diseputar Pengumuman Pembagian Dividen Studi: Pada Perusahaan Publik di Bursa Efek Jakarta.
  • PENILAIAN KELAYAKAN ATAS PEMBELIAN AKTIVA TETAP PADA PERUSAHAAN
    TENUN “PELANGI” LAWANG
  • ANALISIS PENGARUH TINGKAT BUNGA SBI DAN NILAI KURS DOLLAR AS TERHADAP VOLUME PERDAGANGAN SAHAM DI BURSA EFEK JAKARTA
  • EVALUASI PENGENDALIAN INTERN YANG EFEKTIF DAN EFISIEN TERHADAP SIKLUS PERSEDIAAN DAN PERGUDANGAN PADA PERUSAHAAN SNACK
    “BINTANG SEMAR” NGANJUK
  • ANALISIS PENERIMAAN RETRIBUSI GUNA MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH KOTA BATU (Studi Kasus pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Batu)
  • ANALISIS EFEKTIVITAS AKUNTANSI PERTANGGUNG-JAWABAN SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN BIAYA PRODUKSI PADA PERUSAHAAN ROKOK
    RETJO PENTUNG TULUNGAGUNG
  • EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PENGELOLAAN PIUTANG DAGANG DALAM USAHA MENINGKATKAN RENTABILITAS PADA PERUSAHAAN KECAP CAP RATU MOJOKERTO
  • PENERAPAN AKUNTANSI TINGKAT HARGA UMUM DALAM KAITANNNYA DENGAN PERUBAHAN TINGKAT HARGA ATAS PERSEDIAAN PADA LAPORAN KEUANGAN PT. INDUSTRI SANDANG II UNIT PATAL LAWANG
  • EVALUASI SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN UNTUK MENINGKATKAN KINERJA MANAJER PENJUALAN PADA PERUSAHAAN ACCU LAKSUM DI SINGOSARI

15 February 2012

Cara Mudah Mengatasi, Membuka Situs Web Porno yang di Blokir Operator

Cara Mudah Mengatasi, Membuka Situs Web Porno yang di Blokir Operator

Membuka Situs Web Porno yang di Blokir Operator ~Jika Anda sering mengakses internet dan mengunjungi website tertentu, pastinya pernah mengalami situs yang diblokir oleh operator, bukan? Jika iya, mungkin Anda bisa mencoba tips yang satu ini, yaitu dengan cara mengganti DNS pada koneksi internet yang Anda gunakan.

DNS atau yang biasa diartiakan sebagai Domain Name System ini mempunyai peran yang cukup penting bagi stabilitas akses internet pada komputer kita. Sebelumnya saya juga pernah menulis artikel seputar Akses Internet Cepat dengan DNS TelkomSpeedy.
Nah, fungsi dari DNS ini adalah menerjemahkan nama domain dari suatu situs/website di internet. Jadi, jika kita ingin mengunjungi suatu situs, misal Facebook.com, Google.com, Yahoo.com itu sebenarnya sudah diterjemahkan oleh DNS itu sendiri. Saat ini ada banyak penyedia alamat DNS yang bisa kita gunakan secara gratis, salah satunya milik Google yang dinamakan dengan Google Public DNS.

Belakangan ini menteri Telekomunikasi di Indonesia (KOMINFO) telah melakukan pemblokiran terhadap situs - situs yang mengandung SARA ataupun pornografi melalui ISP (Internet Service Provider). Nah, jadi jangan kaget jika disaat Anda sedang iseng mengunjungi situs porno namun diblokir atas nama operator yang Anda gunakan, karena situs tersebut sudah masuk dalam database DNS dari operator Anda yang sudah diblokir.
Untuk mengatasinya, Anda bisa mengikuti langkah - langkahnya berikut ini :

  • Klik "Start" > "Control Panel" dan pilih "Network Connections"
  • Pilih pada jaringan LAN (Local Area Network) yang aktif dan Anda gunakan untuk mengakses internet. Biasanya LAN yang aktif akan ditandai dengan icon komputer menyala berwarna biru.

  • Kemudian klik kanan dan pilih "Properties" pada jaringan LAN tersebut, lalu double klik pada opsi "Internet Protocol [TCP/IP].
  • Pilih opsi "Use the following DNS server addresses"
  • Ganti value pada Preferred DNS server menjadi 8.8.8.8 dan ganti juga pada opsi Alternate DNS server menjadi 8.8.4.4.
  • Untuk lebih mudahnya Anda harus menyesuaikannya persis seperti gambar dibawah ini
  • Jika pengaturannya sudah selesai, klik tombol "OK", kemudian disable atau matikan akses internetnya, dan segera nyalakan kembali.
  • Selesai.
Setelah menerapkan cara diatas, Anda bisa mencoba mengunjungi kembali situs - situs porno, judi, atau bahkan situs yang aman tetapi diblokir karena kesalahan database operator. Biasanya situs tersebut akan bisa kembali diakses tanpa pemblokiran konten filtering dari operator. Semoga bermanfaat!

Catatan : Artikel ini ditujukan hanya untuk menambah wawasan kita saja seputar dunia teknologi, dan tidak bermaksud untuk mengajarkan masyarakat untuk mengunjungi situs berbahaya, seperti situs porno, judi, atau SARA. Jadi, kami tidak bertanggung jawab atas isi dan materi yang diberikan.
Update Terbaru
Jika tidak mau ribet kita bisa membukanya lewat pihak ketiga ikuti intruksinya DISINI jika sukses klik iklan ya beramal .

17 January 2012

INCOME CONCEPT IN FINANCIAL REPORTING

INCOME CONCEPT IN FINANCIAL REPORTING


Profit is a basic and important post of the financial overview merniliki various uses in various contexts. Profit is generally seen as a basis for taxation, the determinant of the dividend payment policy, investment guidelines, and decision-making, and the element of prediction (Belkaoui, 1993) In SFAC no. 1 states that earnings information is a component of the financial statements provided with the aim of helping to provide information to assess management performance, a representative estimate earnings ability in the long term and assess risks in the investment or loan. Earnings in the conventional sense is the maximum value that can be divided or in consumption during the accounting period in which the state at the end of the period is still the same as in the beginning of the period.
Profit in accounting theory usually refers to the concept that the FASB called comprehensive income. Comprehensive Income interpreted as an increase in net assets other than those resulting from transactions with owners. While earnings are profits which are accumulated during a period or an increase in equity or net assets of a company caused by operating activities and outside business activities for a certain period. Earning the most narrow concept of comprehensive income is the broadest concept (Muqodim, 2005:110).
Inside there are various components of accounting income is a combination of several basic components such as gross profit, operating profit, profit before tax and profit after tax (Muqodim, 2005:131). Thus, in determining accounting profit investors can see from the profit after tax. SFAC No.. 1 in Belkaoui (2000:332) assumes that accounting profit is a good measure of the performance of a company and that the accounting income can be used to forecast future cash flows. Other authors assume that accounting income is relevant in the usual way for models of the decision of investors and creditors.
Accounting income with a variety of interpretations expected to be used among others as (Suwardjono, 2005: 456):
1) Indicators of efficiency of use of funds that are embedded in a company that embodied in the rate of return on investment (rate of retun on inuested capital).
2) Measuring achievement or performance of business entities and manajemcn.
3) The basis of determining the amount of taxation.
4) Equipment control the allocation of economic resources of a country.
5) Basic eligibility determination and assessment of the tariff in any public company.
6) Equipment control over debtors in debt contracts.
7) The basis of compensation and bonus.
8) motivational tool in the management of corporate control.
9) Basic dividends.
When viewed in depth, accounting profit is not the true definition of income but merely an explanation of how to calculate profit. Characteristics of such an understanding of accounting earnings contain several advantages. Some of the advantages presented by the accounting profit Muqodim (2005: 114) is:
ü Proven proven throughout history that accounting income is useful for the users in making economic decisions.
ü Profit accounting has been measured and reported objectively can diuj truth because based on real transactions are supported by evidence.
ü Based on the realization of the principles in recognizing revenue accounting income to meet basic conservatism.
ü Profit accounting useful for control purposes primarily related to management accountability.
PURPOSE OF REPORT EARNINGS
One of the objectives of financial reporting is to provide financial information that can demonstrate achievements of the company in generating profits (earnings per share). With a concept that has been used is expected to report users can make decisions appropriate to their economic interests. Although the concept of earnings used is expected to meet the needs of users, but the existence of various concepts and purposes of profit, resulting in the concept of a single income can not meet all the needs of the users of the report. On the basis of this fact there are two alternatives that can be used to formulate the concept of a single income to meet a variety of general purpose or use different income concepts and presents a clear concept of such profits in particular.
Regardless of the problems that arise, the actual earnings information can be used to fulfill many purposes. The goal is to deliver compelling earnings reporting useful information for interested parties. Information on corporate profits can be used:

   
1. As an indicator of the efficient use of funds that are embedded in a company that embodied in the rate of return (rate of return on invested capital)
   
2. As a measure of performance management
   
3. As a basis for determining the amount of tax
   
4. As a means of controlling the allocation of economic resources of a State
   
5. As the base compensation and bonus
   
6. As a motivational tool in the management of corporate control
   
7. As a basis for increased prosperity
   
8. As a basic dividend
QUALITY OF EARNINGS INFORMATION
M. Joseph, et al (2002) mentions that the earnings information to be seen in relation to the perception of decision-making. Because the quality of earnings information is determined by its ability to motivate individual action and assist effective decision making. This is supported by a published FASB SFAC No.. 1, which assumes that accounting income is a good measure of company performance and therefore the accounting profit should be used in the prediction of cash flow and earnings in the future.
Based on this background, Hendriksen in his fifth edition of Accounting Theory (1992:338) define three concepts in an effort to define and measure the return to the levels of language. The concepts include:
a. The concept of profit on the level of Syntax (Structural)
At the syntactic level the concept of income associated with the conventions (habits) and a logical and consistent with rules based on the premise and the concept has evolved from the existing accounting practices. There are two approaches to the measurement of earnings (income measurement) at the syntactic level, namely: Approach of Transaction and Assets Approach.
b. The concept of profit on the level Sematik (interpretive)
In this concept of income are reviewed its relationship with economic realities. In an attempt to give the meaning of the concept of interpretive accounting income (accounting income), the accountants often refers to two economic concepts. Both of these economic concepts are concepts of Capital and Income Maintenance as a Tool for Measuring Efficiency.
c. The concept of profit on the Pragmatic Level (Behavior)
At the pragmatic level (behavioral) concept of income is associated with users of financial statements information that is implied from the profits of the company. Some reactions can be shown to business users with decision-making process of investors and creditors, the reaction rates of reporting income or a letter of response feedback (feedback) from management and the accountant of the reported income.
The concept of this income should at least provide income as material implications for management decisions.


MEASUREMENT & RECOGNITION OF INCOME
Measurement of profit is the determination of the amount of dollars of profit are recorded and presented in the financial statements. Measurement of the profits is highly dependent on the amount of income and expenses. Since profits are part of the revenue, then the concept of raising the revenue realization also applies to profits. Thus the accounting treatment of income will not deviate from the accounting treatment of revenue.
Because profit is the difference between revenues and expenses, profit is recognized generally in line with the recognition of revenues and expenses. In Basic Concepts of Preparation and Presentation of Financial Statements, IAI (1994) states that:
income (income) will be recognized if the increase in future economic benefits associated with an increase in assets or decrease in liabilities has occurred and the amount can be measured reliably. (Paragraph 92)
Conceptually there are three approaches that can be used to measure earnings. Such an approach is the approach of the transaction, the approach of activities and approaches to maintain capital / wealth (capital maintenence)



   
1. A. Transactions Approach
Transaction approach assumes that changes in asset / debt (income) occurred only because of the transaction, both internally and externally. External transactions arise because of transactions involving a change in the asset / debt with parties outside the company. Internal transactions arising from the use or conversion of assets within the company.
At the time of external transactions occur, the market value can be used as a basis to recognize revenue. Internal transactions derived from the value changes, ie changes in the value of the use or conversion of assets. If a conversion has occurred, then the value of old assets will be converted into assets baru.konsep or approach is similar to the concept of realization of income.
This approach has some goodness that is:

   
1. Components of income can be classified in various ways. For example: on the basis of, the product / consumer.
   
2. Operating profit can be separated from non-operating income.
   
3. Can be used as basis in determining the type and quantity of existing assets and debt at the end of the period.
   
4. Business efficiency requires external recording transactions for various purposes.
   
5. Various reports can be created and linked the report to one another.
   
6. B. Approach Activities
Profit is considered arise when certain activities have been implemented. So profits can arise at this stage of planning, purchasing, production, sales and cash collection. In practice, this approach is an extension of the approach to the transaction. This is due to approach the activity starts with the transaction as a basis of measurement. The difference is that the approach is based on transaction reporting process that measures the transactions with outside parties.
While the activity approach is based on the concept of event / activity in a broad sense, not limited to activities with outside parties. Yet both failed to show a profit in the real world measurements. This is due to the two approaches is based on the same structural relationships that do not exist in the real world.
Goodness activity approach are:

   
1. Profits from the production and sale of goods requires the evaluation and prediction jenios different than the profits from the purchase and sale of securities in exchange for the procurement of capital gains.
   
2. Management efficiency can be measured with better when earnings are classified according to the type of activities which are the responsibility of management.
   
3. Allow better predictions because of differences in the behavior patterns of different types of activities.



   
1. C. Maintaining Prosperity Approach (Capital Maintenance Concept)
On the basis of this approach, earnings are measured and recognized after the initial capital can be maintained. Before discussing the measurement of return on the basis of the concept of maintaining wealth / capital will be discussed in advance about the concept of profit and capital.
In the concept of maintaining prosperity, capital (capital) broad sense and in its various forms. So capital is defined as a group of property without regard to who owns the property. Thurs (1990) defines income as follows:
Earnings (income) is the change in corporate capital between the two different time points (beginning and end), excluding changes due to investments by owners and distributions to owners, where capital is expressed in the form of value (value) and is based on a particular measurement scale (p. 194)
While Hendrikson (1989) defines capital income as follows: Profit is the flow of services sepanjangperiode time. Capital is the stock of wealth (the embodiment of future services), and profit is the flow of prosperity that can be enjoyed during a specific period (p. 142)
From the definition above, can be formulated on the basis that the concept of capital as the level of prosperity, then it is profits that can flow in konsumsikan prosperity (enjoyed) for a period, without reducing the level of the previous prosperity. Thus, profit can be measured from the difference between the level of prosperity at the end of the period with a level of prosperity in the early period [profit = total net assets (end of period) - the invested capital (initial period)]. The concept of income measurement is referred to the concept of maintaining capital / wealth (wealth or capital maintenance concept).
Capital used in this concept is the net capital (net worth) or net assets. Capital expressed in terms of economic value on a particular measurement scale. measurement of highly influenced by the value (measuring unit), the type of capital, and the scale of measurement. The difference of these factors will lead to differences in the profits to be obtained.

7 January 2012

ACCOUNTING INFORMATION SYSTEM

ACCOUNTING INFORMATION SYSTEM
SYSTEM A group of elements that are integrated with the same intent to achieve a goal.
Elements of the system:Not all systems have the same combination of elements, but a basic structure are: Input, Transformation, Output, Control Mechanism, Purpose.
Type of System:Open Circle System  system that has no element of control mechanisms, and goals.Closed Circle System  system accompanied by the presence of elements of the control mechanism and purpose.
System properties:1. Open system: The system is connected to its environment through resource flows.2. Closed system: The system is completely unrelated to the environment.
Physical system: a system consisting of a number of physical resourcesConceptual system: a system that uses conceptual resources (data and information) to represent a physical system.

Evolution of Computer-Based Information Systems
Early Focus On DataIn the early 20th century the use of computers is limited only to the accounting application and used the name of the EDP which is the application of the most basic information systems in each company. Now we use the term SIA to replace the EDP.
New Focus On InformationThe concept of using computers to support the management information system was introduced in 1964 by computer makers. MIS concept to realize that computer applications should be applied to the primary purpose of generating management information.
Revisions Focus On Decision SupportWhile the SIM continues to grow in the face of its weaknesses, a new approach emerged with the name of the DSS, the system of producing information that is aimed at a specific problem to be solved by the manager.
Focus Now On CommunicationApplication of OA (Office Automation) to facilitate communication and increase productivity among managers and other office workers through the use of electronic tools.
Potential In Focus ConsultingCurrently ongoing movement to implement Artificial Intelligence (AI) for business problems. The basic idea of ​​AI is that the computer can be programmed to perform some logical reasoning is the same as humans.
SIA definition:An organizational components that collect, classify, process, analyze and communicate financial information and decision making relevant to parties outside the firm and external parties.
AIS characteristics that distinguishes it from other CBIS subsystems:1. SIA melakasanakan tasks required2. Hold on to a relatively standard procedure3. Handle detailed data4. Historical focus5. Provide minimal information solution
Differences SIA and SIM:• SIA collects classify, process, analyze and communicate financial information is being• SIM collects classify, process, analyze and communicate all types of information
Two components of the AIS- Information Specialist- Accountant

Examples of AIS as a corporate information center:Marketing departments are considering introducing a new product in the company's production line, for that part of the requested analysis report estimates the benefits to be gained from the proposed new productSection SIA projected cost estimates and estimates of revenues associated with such products, then the data obtained is processed by the EDP. After processing the results returned to the SIA for later given to the marketing department.The next two sections will discuss the results of the analysis is to look for an appropriate decision.
From the example above can be found two aspects of dealing with modern business systems, namely:1. The importance of communication between departments / subsystem that leads to achievement of a decision.2. The role of AIS in generating information that can assist other departments to make decisions.
Accounting information generated by the SIA can be divided into two, namely:- Financial accounting information, information that shaped the financial statements addressed to the extern.- Information Management Accounting, useful information for management decision making.
In Management Accounting, there are two components that are used for planning and controlling the company, namely:1. Cost Accounting System2. Budgeting System
Cost Accounting System Used to assist management in planning and supervision of the activities of procurement, distribution and sales processBudgeting is the company's financial projections for the future that are useful to help managers in planning and supervision
Elements that can affect the application of SIA in the company:1. Analysis of Behavior2. Quantitative Methods3. Computer
Analysis of BehaviorAny system that tertuangkan in the paper will not be effective in its application unless an accountant will be able to know the needs of the people involved in the system.Accountants do not have to be a psychologist, but enough to understand how to motivate people to lead to positive corporate performance.In addition, an accountant must realize that everyone has different perceptions in receiving any information, so that the information to be supplied can be designed and communicated in accordance with the behavior (behavior) of decision makers.
Quantitative MethodsIn compiling information, an accountant must use this method to improve the effectiveness and value of information.
ComputerAt some companies, the computer has been used to replace the routine work of an accountant, thus providing more time for accountants to be involved in the decision making process.

Basic Concepts of Information System

Basic Concepts of Information System

Basic Concepts of Information Systems Systems Systems: a collection of elements that interact to achieve a particular purpose. According to Jerry FithGerald; system is a network of procedures which are interconnected, gathered together to perform an activity or completing a particular target. Characteristics System / System Elements: Contains component; A system consists of several components that interact with each other, work together to form a unity. System components can be either a subsystem or parts of the system. Each system no matter how small, always contains the components or subsystems. Each subsystem has the properties of the system to perform a particular function and affect the overall system. A system can have a larger system called the supra-system, for example, a company can be called with an industrial system and a larger system can be called with a supra-system. If the industry is seen as a system, then the company can be called a subsystem. Similarly, if the company is seen as a system, then the accounting system is subsistence. System boundary (boundary); boundary that limits the system is an area between a system with other systems or with the outside environment. Limit of this system allows a system viewed as a whole. Limit of a system shows the scope (scope) of the system. Environment outside the system (environment); is anything outside the boundaries of the system which affect system operation. Liaison system (interface); is a media liaison between one subsystem to another subsystem. Input system (input); energy is put into the system. Input can be either input treatment (maintenance input) and input signal (input signal). Maintenance energy input is included so that the system can operate. Input signal is processed to obtain the energy output. For example in a computer system, the program is maintanance inputs used to operate the computer and the data is the input signal to be processed into information. System output (Output); It is the product of the energy processed by the system. Processing system (Process); is the part that processes the input to be output as desired. Target system; If the system does not have a target, then the operating system will not be any good. ? Classification System: System abstract; system in the form of thoughts or ideas that do not appear physically (system of theology) a physical system; an existing physical system (computer systems, accounting systems, production systems, etc..) Natural systems; system that occur through natural processes. (Solar system, space system, reproductive system etc.. Man-made systems; system designed by humans. Man-made systems that involve human interaction with a machine called the human-machine system (example: the information system) System Specific (deterministic system); operate with behavior that could have been predicted. The interaction of the parts can be detected with certainty so that the output of the system can be predicted (eg; computer systems) Indefinite Systems (probabilistic system); system that future conditions can not be predicted because it contains elements of probability. System closed (close system); systems that are not related and are not affected by external systems. The system works automatically without any intervening from the outside. Theoretically such systems exist, but in fact no system is completely closed, the existing Relatively closed systems only (relatively closed, it is not completely covered.) Open system (open system); system-related and affected by external environment. The system is simple and complex system level Information Systems Several types of IT are developed based on managerial lines, has functions and benefits for each level managerial. The SI levels are: Transaction Processing Systems (TPS Transaction Processing-sytems.) TPS is an outgrowth of the establishment of an electronic office, where most of the work including automated routine for processing the transaction. At the polling station, the data included are data transactions. Management Information System (MIS). SIM is a complete management of the processes that provide information for managers to support operations and decision making in a organisasi.Pada SIM, given input data in the form transactions have been processed, some of the original data, models data.Kemudian processing such data will be processed. The process that occurs in the form of making the reports concise, routine decisions and answers from a given query. Decision Support System (SPK) is an increase of the SIM with the provision of special procedures and unique modeling that will assist managers in obtaining alternative decisions. e-Business Information System is built to meet the challenges of integrating data and information from the Internet-based business processes. More specifically known also that called the automated system; that is part of man-made systems and interact with the control by one or more computers as part of the system used in modern society. automated systems have a number of components, namely: Hardware (CPU, disk, printer, tape). software (operating systems, database systems, communications control programs, application programs). Personnel (who operate the system, provide input, output and consuming manual activities that support the system). The data (which must be stored in the system during a certain period). procedures (instruction and policies for operating systems.) automated system is divided into a number of categories: On-line systems. on-line system is a system that receives direct input on the area where the input was recorded and produced output that could be the result of computing in the areas where they is required. Area itself can be broken down in scale, such as hundreds of kilometers. Typically used for air transport reservation, railway reservation, banking, etc.. Real-time systems. The system is real-time control mechanisms, data recording, processing very quickly so that The resulting output can be received in relatively the same time. The difference with on-line system is the unit of time used real-time is usually a hundredth or a thousandth of a second on-line while still dalah scale of seconds or sometimes even a few minutes. Another difference, on-line usually only interact with the wearer, while real-time directly interacting with the user and the environment are mapped. Decision support system + strategic planning system. The system that processes transactions on a daily organization and help managers make decisions, evaluate and analyze the organization's goals. Used for system payroll, ordering system, accounting system and production system. Usually, statistical packages, etc. The marketing package. This system not only record and display the data but also the functions of mathematical, statistical data analysis and display information in graphical form (tables, charts) as conventional reports. Knowledge-based system. Computer programs are made close to the capabilities and knowledge of an expert. Commonly used hardware and specialized software such as LISP and PROLOG. The system is based on the basic principles are generally divided into: System is specialized; is a difficult system diterakpan on different environments (eg biological systems; fish moved onto land) of the system; is a system that serves most of its resources to do the daily maintenance (eg dinosaurs as a biological system spends most of his life by eating and eating). System as part of the system other; system is always a part of a larger system, and can be divided into smaller systems. The system evolved; although not apply to all systems but almost all the systems are always evolving. Executors system consists of 7 groups: Users; In general there are three types of users, namely operational, supervisory and executive. Management; generally consist of three types of management, user management is responsible for handling use where the new system implemented, the management system involved in the development of the system itself and the general management involved in planning strategies and systems decision support systems. Group management is usually involved with decisions relating to people, time and money, for example: "the system must be capable of performing the functions x, y, z, otherwise it must be developed within six months with the department involving the programmer of w, at a cost of x ". Examiner; size and complexity of systems that work and the natural form of organization where the system is implemented to determine a conclusion as to whether the examiner. examiner usually determines everything was based on standard measures developed in many of its peers. Analyser system; Function -functions such as: Archaeologists; namely that track how long the system actually works, how the system is running and all matters relating to the old system. Innovators; namely that helped develop and open horizons for the users of other possibilities. Mediator; namely that runs communications functions of all levels, including users, managers, programmers, inspectors and agents to the other systems that may not have the attitude and the same light. Leaders of the project; analyzer system should be more experienced personnel from the programmer or designer. Also remember the analyzer system is generally set in advance in a job before the other work, it is natural that a portion of the work in charge analyzer system. Designing the system; Designer system analyzer system receives the results of user needs that are not oriented in a particular technology, which is then transformed into design high-level architecture and can be formulated by the programmer. Programmer; Working in the form of program design results that have been received from the designer. Personnel operation; Assignment and responsibility in the computer center as networking, security hardware, software security, and backup printing. Performer is may not be needed when the system is running is not large and does not require a special classification for the running system. The basic point in the development of analyzer systems are part of a team system that serves to develop a system with high efficiency and meet the needs of end users. This development was influenced by a number of things, namely: Productivity, the current system needs more, better and faster. This requires more programmers and systems analysts quality, extra working conditions, the ability of users to float its own, better programming languages, care system more well (generally 50% to 70% of resources are used for system maintenance), use of technical disciplines software and automated systems development. reliability, time spent on testing the system in general spend 50% of the total system development time. In the period 30 years a number of systems used in companies experiencing errors and ironically is not easy to change it. If something goes wrong, there are two ways you can do, namely to triangulate sources of error and must find a way to correct such errors by replacing the program, eliminating a number of statements long or add a new statement. Maintabilitas, treatment will include modifications to the system according to the development of hardware to improve speed of processing (which plays an important role in the operation of the system), modifications to the system according to the development needs of the user. Between 50% and 80% work performed on most system development carried out for revision, modification, conversion, enhancement, and tracking errors. Basic Concepts of Information: Information: data that has been processed into a form that has meaning for the recipient and may be a fact, a useful value. So there is a process of transforming data into an information == input - process - output. Data is raw material for some information. Differences of information and data is relatively dependent on the value of requiring a use for management. A certain level of management information for the data for management can be a level on it, or vice versa. Representation of information: information figuratively, for example: binary representation. The quantity of information: the unit of measure information. Depending on the representations. For the binary representation of the unit: bit, byte, word, etc.. The quality of information: the bias against error, because: measurement and collection errors, failure to follow prmrosesan procedures, loss or unprocessed data, recording or correction of data errors, the error history file / master, error processing procedures lack berfungsian system. Age of information: when or how long the information has value / meaning for its users. There informasion condition (refer to particular point in time) and operating information (stating a change in a range of time). The quality of information; depends on 3 things, that information must be: Accurate, meaningful information should be free from mistakes and not biased or misleading. Accurate also means that information must clearly reflects the masudnya. Stay in time, means information that comes at the receiver should not be too late. Relevant, means that information menpunyai benefits to the wearer. The relevance of information for each person differ from one another. Value of Information determined from two things, namely benefits and costs to get it. An information said to be worth if its benefits are more effective than the cost to get it. Measuring the value of information is usually associated with the analysis of cost effectiveness or cost benefit. Definition of Information Systems: An integrated system capable of providing useful information for its users. Or; A integrated system or human-machine systems, to provide information to support the operation, management in an organization. The system utilizes hardware and computer software, manual procedures, models and database management. From the above definition there are a few key words: computer-based and Human Systems / Computer-Based Machines: the designer must understand the knowledge of computers and information processing of human machine systems: there is an interaction between man and machine as the manager as a tool to process information. There is a manual process that must be human and there is an automated process by the machine. By because it required a procedure / manual system. The integrated database system using a data base together (sharing) in a data base management system. Support for Information Operations are processed and generated used to support the organization's operations. The term = Management Information System Information System Information Processing System = = = Information System Decision Information System. It refers to a computer-based information system designed to support the operation, management and decision-making functions of an organization. According to Robert A. Leitch; information system is a system in a organizations that bring together the needs of daily transaction processing, support operations, are managerial and strategic activities of an organization and provide certain outside parties with the necessary reports. Physical Component Information Systems: Computer hardware: CPU, Storage, device Input / Output, Terminal for interaction, communication media data computer software: system software (operating system and utilitinya), common software applications (programming language), software applications (accounting applications, etc..) database: data storage on computer storage media. Procedure: measures the use of the operating system for the management Personnel (HR), include: Clerical Personnel (to handle transactions and processing the data and perform inquiry = operator); First level manager: to manage the data processing is supported by planning, scheduling, identification of out-of situation -control and decision making to lower middle level. Staff specialist: used for analysis for planning and reporting. Management: for making periodic reports, requests periodicals, special analysis, reports Khsusus, supporting the identification of problems and opportunities. Applications = + program operating procedures. RELATIONSHIP WITH INFORMATION SYSTEMS MANAGERS In part 1 already mentioned that one of the components of the system as information is information management personnel. Therefore the relationship between information systems managers very closely. The system information needed depends on the needs of managers. Management information systems are organized in a management structure. Therefore the form / type of information system is required in accordance with the level of management. Top Level Management: strategic planning, policy and decision making. Manejemen Intermediate Level: for tactical planning. Manejemen Level Below: for planning and supervision of operations Operators : for transaction processing and responding to requests. For the development of an information system necessary structure of the organization's management personnel. Strutktur basically: Director of Information System Development Manager Systems Analyst Systems Programmer Computer and Operations managers. Variations in the management structure is highly dependent on Managerial Efficiency vs. User Service. APPLICATION SYSTEM INFORMATION IN HUMAN ACTIVITIES, ARE: aircraft reservation system: used in a travel agency to serve the reservation / ticketing system to handle credit sales of motor vehicles so that it can be used to monitor the customer's debt biometric systems that can prevent unauthorized people to access information confidential by analyzing fingerprints or eye retina Systems POS (point-of-sale) is applied to the supermarket with a barcode reader support to speed up data entry system or remote monitoring telemetry using radio technology, for example to get the ambient temperature on the mountain flaming or vibration monitor railroad bridge pillar system based on smart card (smart card) which can be used by medical interpreters to determine the patient history system installed in public places that allow one to get information such as hotels, tourist places, shopping etc.. Web-based system of academic services electronic data exchange system (Electronic Data Interchange / EDI) that allows the exchange of documents between companies electronically and the data which is contained in the document can be processed directly by computer e-government or government information system-based internet services .. DESIGN INFORMATION SYSTEM information system planning is the development of new systems from existing old system, where the problems occurred on the old system is expected to be resolved in the new system. INFORMATION SYSTEMS DEVELOPMENT LIFE CYCLE (SYSTEM DEVELOPMENT LIFE Cycles - SDLC) Conceptually a development cycle system information is as follows: System Analysis: analyze and define problems and possible solutions for information systems and organizational processes. Design System: designing output, input, file structures, programs, procedures, hardware and software required to support the development of information systems and Testing System: building software required to support the system and test it accurately. Perform installation and testing of hardware and operating system software implementation: switch from the old system to the new system, conduct training and guidance as needed. Operation and Maintenance: supporting operation of information systems and make changes or additional facilities. Evaluation System: sejauih evaluate where systems have been built and how well the system has been operated. The cycle takes place repeatedly. Cycle on a classic model of information system development. The new models, such as prototyping, spiral, 4GT and the combinations of the classical model developed above. ANALYSIS SYSTEM The reason for the importance of starting the analysis of the system: Problem-solving: the old system is not functioning as needed. For that analysis is needed to fix the system so it can function as needed. Needs new: a new need in the organization or environment so that it is necessary or additional modifications to support the organization's information systems. Implements new ideas or technologies. Improve overall system performance. Limitation of Systems Analysis: Activities conducted in the analysis system must be able to answer common questions, as follows : The new system is to be built? or system is to be added or modified on the old system that already exists? For that detailed questions to be answered: What information is needed? By whom? When? Where? In what form? How how to get it? Where's he from? How do I collect it? Proposal conduct systems analysis; Contains: Definition of a clear and consistent definition of the reason for the analysis of restriction analysis to be carried Identify facts that will be collected and studied for the analysis of identification of sources where the facts can be obtained Description of purpose and constraints that may be in the projection analysis of possible problems that will occur during the analysis of the tentative schedule analysis of sources of facts that can be studied for the analysis of the system: The system of internal sources such as: people, documents, and the relationship between person-organization or any function of External Resources : interfaces with other systems, seminars, vendors, journals, textbooks and other information or knowledge that are outside the system of Framework Analysis: An analysis of the level of decision makers (management organization): analyzing the organization, functions and information needs and information generated. Analysis of flow of information: identifying what information is required, who requires, where it came from. The analysis of input and output. In this analysis techniques and tools used, al: interview, questionaire, observation, sampling and document gathering, charting (organization, flow , dfd, ER, OO, etc.), decision tables and metrics analysis report: Report of the results of the analysis must contain: Description of the reasons and scope (limitations) Description of the analysis of existing systems and operations. Description of the purpose (objective) and the constraints of the system description of the problem unresolved issues and potential problems Description of assumptions made by the system analyst during the analysis process The recommendations of the new system and the need to design the initial projection of resource requirements and costs are expected to include in the design of new systems or modify it. This projection is including eligibility for the next process. Categories feasibility aspects: technical feasibility: the feasibility of hardware and software. Economic Feasibility: are there any advantages or disadvantages, common operational efficiency of the organization. Feasibility operations: associated with operating procedures and the people who run the organization Feasibility schedule: can using scheduling models such as PERT and Gantt Chart. Whether or not feasible development schedule. The final result analysis system (decision): Stop a job, because the proposal is not feasible. Wait a moment, because there are other considerations. Modifications, management decided to modify prososal with other subsystems. The process of the condition, there are eligibility requirements. Process unconditionally, all requirements are met. The proposal received and proceed to the preliminary design process. JFKelly according to the system development cycle; Research Definition of the scope of the system. The analysis of research studies and system design studies research data collection and analysis system Design Development Plan for the implementation of the system development cycle Maintenance Testing Operating system development according to Martin L and Thomas Harrel; conception of systems analysis preliminary investigation preliminary Pendefinisan problem Preparation Analysis of the proposed system in detail the system design decisions Design Design Design of target systems re Solving Programming Develop design flow chart outlines the program Assemble Writing instruction programs Preparing test data for testing Perform Checking the results of correcting errors Diagnose Start program testing system Operating system Installation Documentation Design of systems analysis systems are used to answer the questions what? While the design is used to answer the question how ? Design concentrates on how the system is built to meet the requirements analysis phase. The elements of knowledge related to the design process: Resource organization: the organization rests on the five elements, namely: man, machines, materials, money and methods. The information needs of users : information obtained from users during the analysis phase of the system. System requirements: results of the analysis system. Methods of data processing, are: manual, elektromechanical, puched card, or computer base. The operation data. There are some basic operating data, al: capture, classify , arrange, summarize, calculate, store, retrieve, reproduce and disseminate. design tools, such as: dfd, DCD, dd, decision tables, etc.. The basic steps in the design process: Define the purpose of the system (the defining system goals), not only based on information users, but also in the form of abstraction and study characteristics of the overall needs of system information. Building a conceptual model (develop a conceptual model), a picture of the overall system that describes the functional unit as the unit system. kendala2 Applying organizations (applying organizational contraints). Apply system constraints to obtain the most optimal system. Elements of the organization is a constraint, whereas the functions to be optimized are: performance, reliability, cost, schedule instalation, maintenability, flexibility, grouwth potential life expectancy. The model for optimal system can be described as a model that contains: system requirements and organizational resources as inputs; weighting factor consists of the functions above optimal, and the total value of which must be optimized from the weighting factors. Defining the data processing activities (defining the data processing activities). Defining this can be done with the approach of input-process-output. To determine this requires an iterative process as follows: Mengidentifikasn output is important to support / achieve the objectives of the system (the system's goal) Me-list field specific information required to provide the output Identifies the input data spesifikik required to build the required information fields. Describes the data processing operations are applied to process input into output is required. Identify the input element which becomes the input section and stored during the processing of inputs into outputs. Repeat steps ae continuously served until all the required output is obtained. Build data base that will support the effectiveness of the system to meet the needs of the system, data processing and data characteristics. Based on these constraints the system development, priority support, the estimated cost of development; subtract the input, output and extreme processing Define the various control points to regulate the activity of data processing which determines the general quality of data processing. Complete input and output format is best for system design. Setting up the system design proposal. This proposal is necessary for proper management is the next process to be continued or not. The things that need to be prepared in the preparation of this proposal are: Declare re about the reasons for initiating the system of work including goals / objectives specific and related to user needs and system design. Setting up a simple model but the whole system to be proposed. Displays all available resources to implement and maintain the system. Identify critical assumptions and unresolved issues that may affect the final system design. The format of this design is very berfariasi proposal but contains things above. Basic Principles of Design There are two basic principles of design, al: Design of a monolithic system. Emphasized the integration system. Resource which can be integrated to obtain an effective system, especially in the cost. Design of a modular system. Emphasized on solving the functions that have a low idependensi into modules (functional subsystems) are separate making it easier for us to concentrate on designing a module. An information system can broken down into seven functional subsystems, ie: data collection, data processing, file updates, data storage, data retrival, report information and data processing controls. A general guideline in the design of functional subsystems of a system of information: Sources of data should be collected only once as an input to the system